Produk Makanan ala Korea di Indonesia: Preferensi Konsumen yang akan Bertahan Lama atau Tren Sesaat?
Dalam beberapa tahun terakhir, budaya Korea tetap sangat populer di Indonesia berkat pengaruh K-pop, drama Korea, dan media sosial, dengan Indonesia menempati peringkat pertama secara global dalam tingkat ketertarikan terhadap berbagai aspek yang berkaitan dengan Korea, yaitu sebesar 86.3%.

Sumber: GoodStats Data (survei yang dilakukan oleh Ministry of Culture, Sports and Tourism (MCST) Korea Selatan)
Popularitas ini mendorong munculnya berbagai produk ala Korea di pasar Indonesia, khususnya produk makanan yang menawarkan varian rasa dari Korea. Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana performa produk-produk tersebut saat ini, serta bagaimana persepsi konsumen terhadapnya, terutama apakah produk tersebut telah menjadi preferensi konsumen yang berkelanjutan atau hanya dicoba karena rasa penasaran.
Dalam artikel ini, kami mengeksplorasi bagaimana performa produk makanan dengan cita rasa Korea di pasar saat ini. Kami mengeksplor perilaku pembelian, motivasi konsumen dalam mencoba produk tersebut, serta apakah konsumen terus membelinya dari waktu ke waktu atau hanya mencobanya sekali karena dorongan antusiasme budaya Korea.

Sumber : Customer Insight
Ketika konsumen diminta untuk menyampaikan kesan pertama mereka terhadap produk makanan Korea, mayoritas langsung menyebut mie Korea, terutama yang memiliki rasa pedas (45%). Produk makanan Korea secara umum dipersepsikan sebagai produk instan yang praktis, mudah disiapkan, dan cepat dikonsumsi.
Di antara berbagai kategori, mie instan menjadi produk yang paling sering dibeli dengan sekitar 50% konsumen, menunjukkan bahwa kategori ini menjadi pintu masuk utama konsumen dalam mencoba produk makanan dengan rasa ala Korea. Kesediaan konsumen untuk mencoba produk rasa Korea untuk pertama kalinya sebagian besar dipengaruhi oleh paparan drama Korea (38%), influencer di media sosial, serta rasa penasaran terhadap cita rasa yang dianggap unik.

Sumber : Data POS Tracking
Jika dilihat berdasarkan performa mereka, mi instan rasa ala Korea menunjukkan peningkatan penjualan yang cukup signifikan. Pertumbuhan ini terutama didorong oleh peningkatan jumlah konsumen serta spending konsumen yang lebih tinggi

Sumber : Data POS Tracking
Jika melihat lebih jauh karakteristik konsumennya pada tahun ini, lebih dari 60% konsumen merupakan konsumen trialist. Konsumen trialist mendominasi dibandingkan konsumen existing, yang menunjukkan bahwa sebagian besar pembeli hanya melakukan satu kali pembelian dalam kategori ini.

Sumber : Customer Insight
Ketika dilihat lebih dalam, alasan utama konsumen yang mencoba produk tersebut berhenti melakukan pembelian mi instan rasa Korea adalah harga dan rasa. Sekitar 62% menyatakan bahwa harga dianggap terlalu mahal sebagai alasan utama berhenti membeli. Selain itu, beberapa konsumen berhenti membeli karena merasa bosan dengan rasanya atau merasa rasanya tidak sesuai dengan preferensi pribadi mereka. Faktor lain yang memengaruhi keputusan konsumen termasuk dorongan untuk menghemat uang, persepsi produk yang tidak sehat, dan ketidakpastian tentang status halal.

Sumber : Customer Insight
Setelah berhenti membeli produk mie instan dengan rasa Korea, konsumen menunjukkan dua pola perilaku yang berbeda. Sebagian besar konsumen, sekitar 67% konsumen tetap mengonsumsi produk sejenis namun beralih ke varian rasa non-Korea, sementara sisanya memilih untuk berhenti mengonsumsi produk sejenis secara keseluruhan. Varian rasa yang saat ini lebih banyak dipilih adalah pedas, original, dan ayam panggang.
Alasan pemilihan varian non-Korea tersebut antara lain rasa yang lebih enak, tingkat kepedasan yang lebih sesuai, aroma yang lebih nyaman, variasi rasa yang tidak membosankan, serta harga yang lebih terjangkau dengan promo yang lebih sering tersedia.
Sementara itu, sebagian konsumen lainnya memilih untuk berhenti mengonsumsi produk sejenis setelah menghentikan pembelian produk rasa Korea. Sekitar 43% konsumen mengatakan alasan utamanya adalah keinginan untuk mengurangi konsumsi produk kemasan demi alasan kesehatan. Selain itu, tidak adanya produk pengganti yang dianggap lebih enak serta preferensi untuk memasak makanan sendiri juga menjadi faktor pendorong.

Sumber : Customer Insight
Di antara konsumen yang telah berhenti membeli produk makanan rasa Korea, mayoritas lebih dari 50% masih menunjukkan minat untuk melakukan pembelian ulang di masa depan konsumen. Sebagian konsumen berada pada posisi netral, dan hanya sebagian kecil yang menyatakan tidak berminat membeli kembali. Minat ini berpotensi meningkat jika harga yang lebih terjangkau, tersedia varian rasa baru yang lebih sesuai dengan selera konsumen, serta peningkatan promo atau diskon.

Sumber : Customer Insight
Bagi konsumen yang tetap melakukan pembelian ulang setelah pembelian pertama sebagai konsumen existing, alasan utama mereka adalah cita rasa produk yang dinilai nikmat. Produk ini juga telah menjadi bagian dari pola pembelian rutin konsumen existing, dengan frekuensi pembelian 1–3 kali per minggu. Selain itu, kemudahan dan kepraktisan dalam penyajian turut mendorong pembelian berulang.

Sumber : Customer Insight
Sekitar 60% Konsumen existing tertarik pada produk makanan rasa ala Korea terutama karena cita rasanya yang unik dan berbeda dibandingkan makanan lokal, serta karakter rasa gurih dan pedas yang khas. Ukuran porsi yang dinilai sesuai juga menjadi salah satu aspek yang disukai konsumen.
Namun demikian, lebih dari 60% konsumen mengatakan harga yang tinggi menjadi alasan utama ketidaksukaan konsumen terhadap produk ini. Aspek lain yang kurang disukai meliputi aroma dan aftertaste yang terlalu kuat, serta kemasan yang dinilai kurang praktis.
Di sisi lain, konsumen tetap menunjukkan ketertarikan terhadap pengembangan produk di masa depan, khususnya penambahan additional topping (14%), pengembangan menu utama Korea menjadi produk instan, serta kemasan bergaya Korea yang lebih praktis.
Berdasarkan analisis ini, produk makanan rasa Korea masih memiliki pasar, yang tercermin dari penjualan yang terus menunjukkan pertumbuhan. Hal ini mengindikasikan bahwa produk tersebut tidak hanya dicoba karena rasa penasaran semata, tetapi mulai membentuk preferensi yang berkelanjutan di kalangan sebagian konsumen, termasuk konsumen trialist yang masih menunjukkan niat untuk melakukan pembelian ulang. Namun demikian, baik konsumen trialist maupun konsumen existing sama-sama menunjukkan ketidaksukaan terhadap aspek harga yang dinilai mahal. Di sisi lain, perbedaan preferensi rasa menunjukkan bahwa makanan Korea tidak selalu sesuai dengan selera seluruh konsumen, sehingga daya tarik produk ini masih bersifat tersegmentasi.
Kami berharap insight dan data ini bermanfaat bagi Anda. Jika Anda ingin mengetahui lebih lanjut mengenai performa produk Anda, kami siap membantu. Dengan lebih dari 22 juta anggota dan jutaan transaksi harian, kami menyediakan analisis mendalam mengenai perilaku konsumen dan performa produk untuk mendukung pengambilan keputusan bisnis Anda.

(Business Analyst Alfagift/Image Doc. Photo by SenuScape on Pexels).